Adasemuanya’s Blog

Just another WordPress.com weblog

  • Team of Kedai-Muslim.Com

  • Customer Service

HIDUP-BAHAGIA-HIDUP

Posted by adasemuanya pada Januari 30, 2009

IMAN DAN AMAL SHOLIH

1. Faktor paling penting dan mendasar untuk menggapai bahagia adalah iman dan amal sholeh. Alloh berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An Nahl:97]

Di dalam ayat ini, Alloh memberitakan dan menjanjikan bagi orang yang dapat memadukan antara iman dan amal sholih untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia ini dan balasan yang baik pula di dunia dan akherat.

Alasannya sudah jelas, kerena orang yang beriman kepada Alloh dengan iman yang benar yang membuahkan amal sholih dan dapat memperbaiki kondisi hati, moral (tingkah lakunya) atau urusan keduniaan dan akheratnya, berarti dia sudah mempunyai pondasiyang kuat untuk menghadapi segala kemungkinan, baik yang mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan, maupun kemungkinan buruk yang dapat mendatangkan kegoncangan, kesempitan, dan kesedihan.

Kebahagiaan dan kesenangan mereka sambut dengan sepenuh hati mensyukurinya dan mempergunakannya untuk hal- hal yang bermanfaat. Dan bila mereka berhasil menerima dan mempergunakannya dengan cara semacam itu, maka implikasinya adalah akan timbul hal- hal besar lainnya yang kebaikan dan keberkahannya melebihi kebahagiaan dan kesenangan yang pertama. Ini sebagai akumulasi suka cita dan keinginan untuk mempertahankan keberadaan dan keberkahan ni’mat tersebut serta harapan untuk memperoleh pahala syukur.

Begitu pula dengan cobaan, kemudhorotan, kesempitan, dan keruwetan. Yang mampu ia atasi, ia pecahkan, yang hanya dapat ia minimalkan, ia lakukan dan yang mau tidak mau, harus ia atasi dengan kesabaran. Dan sebagai dampak dari akumulasi ‘kemampuan menghadapi ujian plus cobaan dan kekuatan’ , juga akumulasi dari ‘kesabaran plus pengharapan akan pahala’, maka mereka akan mendapatkan hal- hal besar lainnya yang dengan hal- hal tersebut semua ujian dan cobaan apapun tidak akan terasa, bahkan akan berubah menjadi kesenangan dan harapan- harapan baik serta keinginan untuk mendapatkan karunia dan pahala Alloh.

Nabi telah mengungkapkan di dalam sebuah hadits shohih, beliau bersabda: “sungguh luar biasa keadaan seorang mu’min itu. Sesungguhnya setiap keadaannya (akan mendatangkan) kebaikan. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan (syukur) itu adalah kebaikan untuknya. Jika dia mendapatkan musibah, dia bersabar, dan (sabar) itu adalah kebaikan untuknya. Hal itu tidak (diberikan) untuk siapapun kecuali untuk seorang mu’min.” [HR. Muslim]

Di dalam hadits ini rosululloh, memberitahukan bahwa seorang mu’min akan dilipatgandakan kebaikannya dan buah amal- amalnya di dalam kondisi apapun yang dia hadapi, di dalam kondisi ni’mat ataupun susah.

Oleh karena itu, engkau bias menemukan dua orang yang mendapatkan ujian yang sama atau ni’mat yang sama, tetapi ternyata, keduanya berbeda dalam menghadapinya. Hal itu kembali kepada kualitas iman dan amal sholih yang dimiliki oleh masing- masing orang.

Yang satu dapat menghadapi ni’mat atau musibah dengan syukur dan sabar, sehingga ia merasa senang dan suka cita. Pada saat yang sama kesumpekan, keruwetan, kegundahan, perasaan sempit dada, dan kesulitan hidup juga akan hilang, dan akhirnya ia bisa mendapatkan kehidupan yang baik di dunia ini.

Adapun orang yang satu lagi, menyambut ni’mat dengan keangkuhan menolak kebenaran dengan kedzholiman, sehingga moral dan tingkah lakunya menjadi melenceng. Ia sambut ni’mat itu dengan sikap seperti hewan, dengan penuh tamak dan loba. Walaupun demikian, hatinya tetap tidak merasa tenang bahkan terasa seperti tercabik- cabik dari segala penjuru. Ia khawatir kalau apa yang ia ni’mati hilang, ia khawatir akan banyaknya tantangan- tantangan yang timbul menghadangnya. Ia cemas dan tidak tenang. Karena hawa nafsu tidak akan berhenti pada batas tertentu, tetapi ingin senantiasa mendapatkan yang lainnya lagi yang barangkali bias ia raih, bias juga tidak. Kalau bias diraih, kekhawatiran- kekhawatiran yang pertama tadi akan menghampirinya. Ia juga menyambut musibah yang menghadangnya dengan kegoncangan, kegundahan, rasa takut, dan jengkel. Jika sudah demikian, jangan tanyakan lagi bagaimana dia bisa ditimpa kesulitan hidup, ditimpa berbagai penyakit syaraf, dan perasaan takut yang mengkhawatirkan. Karena saat itu ia tidak mengharapkan pahala dari Alloh dan tidak memiliki kesabaran yang dapat menghibur dan meringankan penderitaannya.

Hal di atas dapat kita saksikan sendiri di dalam kenyataan. Jika engkau renungai kondisi orang- orang sekarang ini, engkau akan melihat bahwa ada perbedaan besar antara seorang mu’min yang bekerja dan bertindak atas norma keimanan, dengan yang tidak bersikap seperti itu. Kesimpulannya adalah bahwa agama sangat mendorong dan menganjurkan orang agar bersifat qona’ah (menerima) tehadap rizki Alloh, karunia, dan kemurahanNya yang beraneka ragam.

Seorang mu’min- jika ditimpa penyakit, kefakiran, dan berbagai musibah yang dapat menimpa setiap orang- dengan keimanannya, juga dengan sifat qona’ah, dan kerelaannya atas apa yang diberikan Alloh kepadanya, dia akan tetap terlihat tenang. Hatinya tidak menuntut mencapai sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya dan tidak melirik kepada orang yang berada di atasnya. Dan barangkali kebahagiaan, kesenangan, dan ketenangannya melebihi orang yang berhasil meraih tuntutan- tuntutan duniawinya, tetapi tidak qona’ah (tidak merasa puas).

Sebagaimana engkau juga dapat menyaksikan orang yang bertindak dan beramal tidak sesuai dengan konsekuensi keimanan, jika ditimpa sedikit kekurangan atau tidak berhasil meraih sebagian tuntutan duniawinya, ia merasa di puncak kesengsaraan dan kesusahan. Contoh lain, apabila terjadi hal yang menakutkan atau hal- hal lain yang mengganggu, engkau akan lihat bahwa orang yang benar imannya, hatinya kuat, jiwanya tenang, ternyata mampu mengatasi dan menjalani apa yang menimpanya dengan kemampuan pikiran, perkataan, dan amalnya. Semua itu akan memperkuat dirinya bila berhadapan dengan gangguan atau musibah yang menimpanya. Kondisinya semacam inilah yang dapat meneguhkan manusia dan menguatkan hatinya.

Sebaliknya, kondisi orang yang tidak mempunyai iman, bila terjadi suatu hal yang menakutkan, hatinya gundah, urat sarafnya tegang, pikirannya kacau, rasa takut dan cemas masuk ke dalam dirinya. Berkumpullah pada dirinya perasaan takut dari luar dengan kegoncangan batin yang sulit untuk diketahui hakikatnya. Orang dengan tipe semacam itu, -bila tidak didukung faktor- faktor alamiah dengan banyak latihan- akan kehilangan semangat dan menjadi tertekan. Sebab ia tidak mempunyai iman yang dapat mendorongnya bersikap sabar, khususnya di dalam kondisi- kondisi tegang dan sedih.

Orang baik dan orang jahat, juga orang mu’min dan orang kafir, sama- sama berpotensi untuk belajar dan bisa berani. Juga sama- sama mempunyai potensi kejiwaan yang dapat melunakkan dan meringankan hal- hal yang menakutkan. Hanya saja, seorang mu’min mempunyai keunggulan dengan keimanan, kesabaran, dan tawakkalnya kepada Alloh serta harapannya untuk mendapatkan pahala dari Alloh. Hal- hal inilah yang menambah rasa keberanian memperingan beban takut, juga meringankan musibah yang menimpanya.

Seperti difirmankan Alloh: “Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Alloh apa yang tidak mereka harapkan.” [An Nisa’: 104]

Selain itu, ia akan mendapat pertolongan Alloh dan ‘kebersamaan’Nya. Dan hal itu dapat menghancurkan perasaan takutnya. Alloh berfirman: “Dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” [Al Anfal: 46]

2. termasuk di antara faktor- faktor yang dapat menghilangkan kesedihan, musibah, dan kegoncangan hati adalah berbuat baik kepada semua makhluk, melalui perkataan, perbuatan , dan berbagai macam amalan baik lainnya. Alloh akan menolak kesedihan dan musibah dari orang sholih dan orang yang jahat sesuai dengan perbuatan baik yang dilakukan. Hanya saja bagi seorang mu’min akan mendapatkan porsi yang lebih sempurna. Dan yang membedakan seorang mu’min dari yang lainnya adalah bahwa kebaikan yang dia lakukan didorong oleh keikhlasan dan harapan mendapatkan pahala dari Alloh. Dan hal itu memudahkan baginya untuk mendapatkan kebaikan yang ia inginkan. Alloh juga akan menolak hal- hal yang tidak ia sukai karena berkah keikhlasan dan harapan mereka akan pahalaNya. Alloh berfirman: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” [An Nisa’: 114]

Di dalam ayat ini, Alloh menginformasikan bahwa hal- hal yang disebutkan tadi semuanya bernilai baik bagi orang yang melakukannya. Dan sebuah kebaikan biasanya mendatangkan kebaikan serta menolak keburukan. Seorang mu’min yang hanya mengharapkan pahala Alloh akan mendapatkan balasan yang besar yang diantaranya adalah di dalam bentuk hilangnya kesedihan, musibah, dan hal- hal yang mengganggu lainnya.

AKTIVITAS, ILMU, DAN KONSENTRASI

1. Di antara faktor yang dapat mengatasi kegoncangan jiwa karena tegangnya urat saraf dan hati gelisah ialah ‘menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau mempelajari ilmu yang bermanfaat.’ Aktivitas semacam ini, dapat mengalihkan perhatian hati seseorang dari hal- hal yang dapat menggoncangkannya. Bahkan, mungkin mampu melupakan faktor- faktor yang mendatangkan kesedihan dan musibah. Jiwanya menjadi senang dan semangatnyapun bertambah. Faktor- faktor semacam ini bisa berlaku bagi orang yang beriman dan yang tidak beriman. Hanya saja, orang yang beriman unggul dengan keimanan dan keikhlasannya, ketika dia menyibukkan diri dengan ilmu yang dia pelajari atau dia ajarkan, juga dengan perbuatan baik yang dia lakukan. Jika yang dia lakukan berbentuk ibadah, maka tentu nilainya adalah ibadah. Jika berbentuk pekerjaan atau kebiasaan duniawi, maka pekerjaan itu, ia sertai dengan niat yang baik dan dimaksudkan untuk membantunya di dalam ibadah kepada Alloh. Dan karena itu semua, maka faktor- faktor tersebut sangat berperan di dalam menghilangkan kesedihan dan berbagai macam musibah. Betapa banyak orang yang ditimpa kegoncangan hati dan kesedihan yang berlarut, sampai akhirnya ditimpa berbagai macam penyakit. Ternyata obat yang paling tepat untuk itu adalah dengan melupakan faktor- faktor yang membuatnya gelisah dan menyibukkan diri dengan aktivitas- aktivitas penting.

Karena itu, hendaklah kita memilih kesibukan yang disenangi dan diinginkan oleh jiwa. Sebab yang demikian ini dapat mempercepat hasil yang dimaksudkan. Wallohu a’lam.

2. di antara hal yang juga dapat menolak kesedihan dan kegelisahan adalah mengonsentrasikan segenap pikiran pada pekerjaan yang ada pada hari itu, tidak memikirkan hal yang akan dating atau kesedihan yang pernah terjadi. Karena itu nabi mohon perlindungan kepada Alloh dari perasaaan al ham dan al huzn. Al huzn artinya kesedihan atas hal- hal yang telah berlalu yang sudah tidak mungkin ditolak dan diraih kembali. Al ham artinya kesedihan yang terjadi karena perasaan takut akan hal- hal yang akan dating. Dengan demikian, seorang hamba akan menjadi ibnu yaumih [anak harinya], ai akan giat dan bersungguh- sungguh memperbaiki hari dan waktu yang ia ada pada saat itu. Apabila hati dikonsentrasikan untuk hal ini, ia akan berusaha menyempurnakan semua tugasnya. Dengan demikian, ia akan terhibur dari kesedihan dan musibahnya. Ketika nabi membaca doa atau mengajarkan umatnya berdoa –tentu dengan bantuan Alloh dan karuniaNya- semangat dan kesungguhan mencapai prestasi dan menolak kegagalan, sebagaimana yang diminta di dalam doa. Karena doa itu bergandeng dengan amal. Setiap hamba berusaha mendapatkan apa yang bermanfaat bagi dunia dan akheratnya. Dan dia juga memohon pertolongan Alloh agar sukses mendapat apa yang dia inginkan. Seperti yang disabdakan rosululloh:”berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, janganlah mengatakan ‘seandainya saya lakukan begini, tentu (hasilnya) akan begini dan begini.’ Tapi katakanlah: ‘Alloh sudah menakdirkan dan Alloh berbuat apa yang Dia kehendaki.’ Sebab sesungguhnya perkataan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan setan.” [HR. Muslim]

Di dalam hadits tersebut, rosululloh memadukan antara perintah berusaha meraih yang bermanfaat dalam setiap keadaan dengan perintah mohon pertolongan kepada Alloh dan perintah agar tidak memperturutkan sikap lemah yang merupakan cerminan dari sifat malas yang berbahaya. Semua itu dikimpulkan dengan perintah pasrah terhadap hal- hal yang sudah berlalu dan selalu memperhatikan qodho’ dan qodar Alloh. Di sini rosululloh membagi urusan manusia menjadi dua bagian: pertama, bagian yang dibolehkan bagi seorang hamba berusaha mendapaytkannya, menolaknya, atau meringankannya. Bagian kedua adalah bagian yang tidak boleh atau tidak bias disikapi seperti di atas. Di sini seorang hamba dituntut tenang, rela, dan menerima. Dan tidak diragukan lagi bahwa memperhatikan sikap semacam ini adalah faktor memperoleh kesenangan dan melenyapkan kesedihan.

DZIKIR, INGAT NI’MAT, DAN MELIHAT KE BAWAH

1. Termasuk faktor utama yang mendatangkan sikap lapang dada dan ketenangan adalah banyak berdzikir kepada Alloh. Dzikir kepada Alloh memberikan pengaruh ajaib guna mendapatkan lapang dada dan ketenangan serta menghilangkan kesedihan dan kesusahan. Alloh berfirman:” Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [Ar Ro’d: 28]

Dzikir kepada Alloh juga akan memberikan pengaruh yang besar di dalam menggapai kebahagiaan, karena dzikir mempunyai keistimewaan dank arena adanya harapan hamba untuk mendapatkan pahala dan balasan Alloh.

2. di antara (faktor kebahagiaan) pula adalah mengingat- ingat dan membicaarakan ni’mat- ni’mat Alloh yang tampak maupun yang tidak tampak. Dengan mengetahui dan membicarakannya, niscaya Alloh akan menolak kesedihan yang ada dan mendorong hamba untuk selalu bersyukur. Syukur (berterima kasih) adalah sikap yang sangat mulia dan terpuji, walaupun seseorang berada di dalam kondisi fakir, sakit, dan tertimpa berbagai macam ujian lainnya. Jika seorang hamba ingin membandingkan antara ni’mat- ni’mat Alloh yang banyaknya tidak dapatdihitung dengan jumlah musibah yang menimpa, tentu musibah yang menimpa, tentu musibah itu tiada artinya.

Bahkan, jika ada musibah yang menimpa hamba, lalu ia hadapi dengan kesabaran, rela, dan sikap menerima, maka akan ringanlah bebannya. Pada waktu yang sama, harapannya untuk mendapatkan pahala Alloh dan ibadahnya kepada Alloh di dalam bentuk menjalankan perintah untuk bersabar dan rela, akan mengubah sesuatu yang pahit menjadi manis. Manisnya pahala membuatnya lupa akan ‘pahitnya bersabar’ (menahan musibah).

3. termasuk faktor yang sangat mendukung di dalam hal ini adalah mengikuti petunjuk nabi di dalam sebuah hadits shohih dimana beliau bersabda: “Lihatlah kepada siapa yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat kepada siapa yang di atas kalian. Maka sesungguhnya hal ini lebih patut. Sehingga kalian tidak meremehkan ni’mat Alloh atas kalian.” [HR. Al Bukhori dan Muslim]

Apabila seorang hamba meletakkan di depan matanya cara pandang yang mulia ini, ia akan melihat dirinya lebih unggul dibandingkan sebagian besar orang di dalam masalah kesehatan dan rizkinya, bagaimanapun kondisi di yang sebenarnya. Dengan demikian, akan hilanglah kegelisahan, kesedihan dan keluh kesahnya, kemudian bertambahlah perasaan senang serta harapannya untuk mendapatkan ni’mat- ni’mat Alloh yang telah diberikan kepada orang- orang yang ada di atasnya.

Setiap kali seorang hamba merenungi ni’mat- ni’mat Alloh, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, urusan agama maupun duniawi, ia akan mengetahui bahwa Alloh telah memberikan kepadanya banyak kebaikan dan Alloh telah mencegah berbagai bencana darinya. Dan pasti, hal ini dapat menghilangkan kesedihan dan mendatangkan kebahagiaan serta kesenangan.

IKHTIAR DAN DOA

1. Termasuk hal- hal yang dapat mendatangkan kesenangan dan menghilangkan kesedihan adalah berusaha menghilangkan faktor yang menyebabkan kesedihan tersebut serta berusaha mencari faktor yang dapat mendatangkan kesenangan yang diinginkan. Caranya yaitu melupakan musibah- musibah yang sudah berlalu dan tidak mungkin bisa diatasi. Juga harus dipahami bahwa, menyibukkan pikiran dengan hal- hal tersebut adalah perbuatan sia- sia, tidak berguna dan gila (tidak baik). Dengan demikian, ia berusaha agar hatinya tidak lagi memikirkan hal- hal tersebut, berusaha menghilangkan kegelisahan hatinya, kekurangan, perasaan takut atau lainnya dari kekhawatiran yang ia bayangkan pada masa depan. Maka ia memahami bahwa masa depan tidak bisa diketahui, termasuk di dalamnya masalah kebaikan, kejelekan, harapan- harapan, dan musibah. Semuanya berada di Tangan Alloh Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Manusia tidak kuasa apa- apa kecuali berusaha mendapatkan kebaikan dan menolak kemudhorotan.

Dengan demikian seorang hamba mengetahui, jika ia tidak gelisah memikirkan nasibnya yang akan datang, bertawakal kepada Alloh untuk memperbaiki nasibnya, maka hatinya akan tenang, kondisinya akan membaik dan akan hilang kesedihan dan kegelisahannya.

2. Termasuk hal yang paling berguna untuk menyambut masa depan yang baik adalah, berdoa dengan doa yang pernah dipanjatkan oleh nabi: “Ya Alloh, perbaikilah agamaku yang merupakan urusan pokokku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, perbaikilah akheratku yang ke sanalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini tambahan bagiku di dalam setiap kebaikan , dan (jadikanlah) kematian itu keterlepasan bagiku dari setiap keburukan.” [HR. Muslim]

Begitu pula doa beliau: “Ya Alloh, aku mengharapkan rahmatMu, maka janganlah Kau pasrahkan (urusan)ku pada diriku sendiri walau hanya sekejap mata. Dan perbaikilah urusanku semuanya. Tiada sesembahan yang haq melainkan Engkau.” [HR. Abu Daud dengan sanad shohih]

Apabila seorang hamba memanjatkan doa ini untuk kebaikan agama dan dunianya pada masa yang akan dating dengan penuh konsentrasi dan niat yang benar serta memang berusaha untuk itu, niscaya Alloh mengabulkan doa, harapan dan apa yang dia usahakan. Berubahlah kesedihan menjadi kebahagiaan dan kesenangan.

SIAP MENTAL

Termasuk factor yang bermanfaat untuk menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, saat ditimpa musibah adalah berusaha meringankannya dengan cara memperkirakan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi, kemudian mempersiapkan mental untuk menghadapinya. Jika sudah dipikirkan, hendaklah berusaha meminimalisir persoalan sesuai kemampuannya. Dengan kesiapan mental berikut usaha yang maksimal, akan hilanglah kesedihannya. Dan dengan itu pula ia akan meraih kebaikan dan menolak kemudhorotan, semampu yang dia lakukan. Apabila seorang hamba dihadapkan dengan ketakutan, sakit, kekurangan, atau tidak dapat meraih keinginannya yang bermacam- macam, hendaklah ia hadapi dengan tenang dan kesiapan mental, bahkan untuk menghadapi yang lebih berat sekalipun. Sebab, kesiapan mental menghadapi musibah akan mengecilkan musibah tersebut dan menghilangkan bobotnya, terlebih bila ia berusaha melawan sesuai kemampuan. Sehingga ia mampu memadukan antara kesiapan mental dan usaha maksimal yang dapat mengalihkan perhatiannya dari musibah yang menimpa. Dia dapat berusaha untuk selalu memperbaharui kekuatannya untuk menghadapi musibah disertai dengan tawakal dan yakin kepada Alloh. Tidak diragukan lagi, yang demikian ini, berperan besar mendatangkan kesenangan dan kelapangan dada serta pahala yang cepat (di dunia) ataupun yang lambat (di akherat). Ini adalah fakta, banyak yang telah membuktikannya.

TEGAR DAN TAWAKAL

Salah satu cara ampuh untuk pengobatan penyakit saraf/ kejiwaan, bahkan juga penyakit- penyakit fisik adalah dengan menghadirkan hati yang kuat, tegar dan tidak dipengaruhi oleh ilusi dan khayalan negatif. Sebab, bila seseorang sudah mau menerima khayalan- khayalan, hatinya memberikan reaksi terhadap berbagai pengaruh dari luar, seperti perasaan takut akan penyakit dan lain sebagainya atau perasaan marah dan merasa terganggu sekali karena hal- hal yang menyakitkan atau karena memikirkan musibah yang akan menimpa atau kenikmatan yang akan hilang. Semua itu akan menenggelamkannya di dalam kesedihan, penyakit jiwa maupun jasmani dan menghancurkan batinnya. Dampak buruk dan bahayanya sudah banyak diketahui oleh banyak orang.

2. Jika hati bersandar kepada Alloh, bertawakal kepadaNya, tidak menyerah pada prasangka- prasangka buruk, tidak dikuasai khayalan- khayalan negative, yakin dan mengharapkan sekali akan karunia Alloh. Maka akan terusirlah perasaan sedih dan hilanglah berbagai macam penyakit fisik dan jiwa. Hati bias mendapat kekuatan, kelapangan, dan kebahagiaan yang tak bias diungkapkan. Banyak rumah sakit yang penuh dengan pasien yang sakit karena prasangka- prasangka buruk dan khayalan- khayalan menyesatkan. Banyak orang yang kuat hatinya tapi masih terpengaruh dengan hal tersebut, apalagi orang yang memang lemah hatinya. Dan betapa sering hal tersebut menyebabkan kedunguan dan kegilaan. Orang yang sehat dan selamat adalah yang diselamatkan Alloh dan diberi taufik untuk berusaha mendapatkan factor- factor yang bias menguatkan hati dan mengusir kegelisahannya. Alloh berfirman:” Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [Ath Tholaq: 3]

Artinya, Alloh akan mencukupkan untuknya semua apa yang dia butuhkan dari urusan agama dan dunianya.

Maka orang yang bertawakal kepada Alloh, hatinya kuat, tidak dapat dipengaruhi prasangka- prasangka buruk, tidak dapat digoncangkan oleh peristiwa- peristiwa yang terjadi, sebab ia tahu hal itu sebagai tanda lemahnya jiwa dan perasaan takut yang tidak beralasan. Ia tahu, Alloh akan menjamin sepenuhnya orang yang bertawakal kepadaNya, dia yakin kepada Alloh dan tenang karena percaya akan janjiNya. Dengan demikian, hilanglah kesedihan dan kegelisahannya. Kesulitan berubah menjadi kemudahan, kesedihan menjadi kegembiraan, dan perasaan takut menjadi rasa aman. Kita memohon kepada Alloh kesehatan dan keselamatan. Semoga Dia mengaruniakan kepada kita kekuatan dan ketetepan hati dengan sikap tawakal total. Karena Alloh telah menjamin orang yang bertawakal dengan segala kebaikan dan menolak segala musibah dan kesedihan.

TIDAK MEMBENCI

Rosululloh bersabda:”tidak boleh seorang mu’min (suami) membenci seorang mu’minah (istrinya), jika dia tidak menyenangi satu dari perilakunya, dia tentu menyukai (perilakunya) yang lain.” [HR. Muslim]

Di dalam hadits ini, ada dua pelajaran penting:

Pertama, hadits ini memberikan pengarahan bagaimana seharusnya memperlakukan istri, kerabat, teman, pekerja, dan semua orang yang mempunyai hubungan dengan kita. Kita harus mempersiapkan mentalkita, Karena pastiakan ada aib, kekurangan, dan hal lain yang tidak kita senangi. Apabila kita mendapatkannya, maka hendaklah kita membandingkan antara tingkah lakunya denga apa yang seharusnya kita lakuakan terhadap dia. Seperti menjaga kekuatan hubungan dank elanggengan kasih saying yang terjalin sebelumnya. Juga mengingat kebaikan- kebaikannya. Dengan menutup mata dari kekurangan- kekurangan dan memperhatikan kebaikan- kebaikannya, maka persahabatan dan hubungan akan tetap terjalin serta perasaan pun menjadi tenang.

Kedua, hendaklah kita berusaha menhilangkan kesedihan san kegelisahan, menjaga hubungan baik, selalu memberikan hak- hak yang harus dipenuhi, sehingga tercipta ketenangan di antara kedua belah pihak. Barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk yang disebutkan rosululloh ini, bahkan menentangnya, melihat orang hanya kepada kejelekan- kejelekannya, menutup mata dari kebaikan- kebaikannya, dia pasti akan gundah, kasih saying yang terjalin antara keduanya menjadi keruh dan banyak hak yang seharusnya dijaga menjadi terputus.

Banyak orang mempunyai idealism yang melangit, mental mereka siap untuk sabar dan tenang menghadapi berbagai cobaan dan musibah besar. Akan tetapi, mereka menjadi gelisah dan keruh perasaannya, ketika menghadapi masalah- masalah kecil. Penyebabnya adalah karena mereka hanya mempersiapkan mental untuk menghadapi masalah- masalah besar dan tidak untuk menghadapi masalah kecil. Ternyata hal itu membahayakan dan mempengaruhi ketenangan mereka. Orang yang benar- benar kuat adalah orang yang mempersiapkan dirinya menghadapi masalah- masalah kecil dan besar sekaligus serta memohon pertolongan kepada Alloh. Ia juga mengharap agar urusannya tidak diberikan (dibebankan) kepada dirinya sendiri, walaupun hanya sekejap mata. Saat itulah masalah kecil dan besar mudah dihadapi, sementara jiwanya tentram dan hatinya tenang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: